Media Asing Dibatasi Liput Papua

JAKARTA--Pemerintah Indonesia masih membatasi akses peliputan media asing di bumi Papua. Pemerintah belum mencabut wajib lapor bagi wartawan asing yang ingin meliput di Papua. Alasannya, untuk melindungi wartawan dari potensi gejolak keamanan. Apalagi, keselamatan wartawan asing di sebuah negara menjadi isu sensitif.

West Papua Report (February 2012)

The trial of five Papuans who led a peaceful demonstration in October 2011 demanding Papuans' right to self determination has begun. There has been no prosecution of security forces who brutally attacked that demonstration, killing at least three peaceful demonstrators and beating scores more. The U.S. State Department called on the Indonesian authorities to ensure due process for those indicted and urged that Indonesia respect its international legal obligations related to the trial. Human Rights Watch.

AS Desak RI Perhatikan Aspirasi Warga Papua

Amerika Serikat mendesak Indonesia memperhatikan aspirasi warga Papua terkait proses hukum lima aktivis dengan tuduhan makar dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup.

Once again, Australia is silent about violence on its doorstep

In West Papua, it's appeasement, violence and business as usual for Indonesia. There is a vast difference between promises made to the people of West Papua and what actually happens.

Its sheer bloody murder, right on our doorstep

THE highest mountains between the Himalayas and the Andes are the snow-topped crags of West Papua (4884 metres). A tropical glacier pokes out of the sweltering green of Asia's largest rain forests. This is the second largest island on earth, with 15 per cent of all the world's languages, an encyclopaedic biodiversity and a new El Dorado for our resource-hungry world.

Showing posts with label Bencana. Show all posts
Showing posts with label Bencana. Show all posts

Friday, March 4, 2011

Bantuan Korban Wasior Menumpuk di Dinas Sosial

Biak: Barang-barang bantuan untuk masyarakat Kabupaten Biak, Numfor, Papua, yang menjadi korban banjir Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, hingga awal Maret 2011 masih menumpuk di gudang Kantor Dinas Kesejahteraan Sosial (Diskesos) setempat.
Data yang diperoleh dari bidang bantuan sosial Diskesos Biak, Kamis (3/3) menyebutkan, sekitar enam ton bahan bantuan korban banjir bandang Wasior berupa mi instan, air mineral serta pakaian layak pakai belum terkirim ke Wasior, karena masih menunggu ketersediaan angkutan kapal.

Kepala Dinas Kesejehteraan Sosial Kabupaten Biak, Felik Rumbewas, ketika dikonfirmasi wartawan di Biak, membenarkan pihaknya belum dapat mengirimkan bantuan masyarakat Kabupaten Biak Numfor, untuk korban banjir Wasior karena persoalan angkutan laut yang terbatas.

"Sesuai koordinasi dan petunjuk Sekda Biak, barang bantuan masyarakat untuk korban banjir bandang Wasior segera dikirim dalam pekan ini setelah pulang dari kunjungan kerja ke pulau Numfor," ungkap Felix Rumbewas

Sementara itu, Kepala Bidang Bantuan Sosial Diskesos Yan Domeng mengatakan, meski pengiriman barang bantuan terlambat karena masalah angkutan, barang bersangkutan tetap masih tersimpan utuh di Gudang Diskesos.

Berbagai jenis barang bantuan tersebut masih aman dikonsumsi karena batas kadaluarsanya masih berlaku hingga beberapa bulan ke depan.

Menyinggung bantuan uang masyarakat yang dihimpun Diskesos, menurut Domeng, bantuan uang telah dikirim ke rekening posko penanggulangan bencana alam banjir Wasior, Kabupaten Teluk Wondama.

"Bukti transfer pengiriman uang untuk korban banjir Wasior melalui Bank Papua ada di petugas pengelola bantuan sosial," ujarnya. (Ant/RIZ)

Source: www.metrotvnews.com