Media Asing Dibatasi Liput Papua

JAKARTA--Pemerintah Indonesia masih membatasi akses peliputan media asing di bumi Papua. Pemerintah belum mencabut wajib lapor bagi wartawan asing yang ingin meliput di Papua. Alasannya, untuk melindungi wartawan dari potensi gejolak keamanan. Apalagi, keselamatan wartawan asing di sebuah negara menjadi isu sensitif.

West Papua Report (February 2012)

The trial of five Papuans who led a peaceful demonstration in October 2011 demanding Papuans' right to self determination has begun. There has been no prosecution of security forces who brutally attacked that demonstration, killing at least three peaceful demonstrators and beating scores more. The U.S. State Department called on the Indonesian authorities to ensure due process for those indicted and urged that Indonesia respect its international legal obligations related to the trial. Human Rights Watch.

AS Desak RI Perhatikan Aspirasi Warga Papua

Amerika Serikat mendesak Indonesia memperhatikan aspirasi warga Papua terkait proses hukum lima aktivis dengan tuduhan makar dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup.

Once again, Australia is silent about violence on its doorstep

In West Papua, it's appeasement, violence and business as usual for Indonesia. There is a vast difference between promises made to the people of West Papua and what actually happens.

Its sheer bloody murder, right on our doorstep

THE highest mountains between the Himalayas and the Andes are the snow-topped crags of West Papua (4884 metres). A tropical glacier pokes out of the sweltering green of Asia's largest rain forests. This is the second largest island on earth, with 15 per cent of all the world's languages, an encyclopaedic biodiversity and a new El Dorado for our resource-hungry world.

Showing posts with label Culture. Show all posts
Showing posts with label Culture. Show all posts

Monday, August 22, 2011

Hidup Mereka Bertumpu di Rawa Biru

Oleh: Erwin Edhi Prasetyo dan Timbuktu Harthana

Ditemani sekawanan anjing, Thomas Sanggra (20) bersama empat rekannya berjalan menuju Rawa Biru, Kawasan Taman Nasional Wasur, Merauke, Papua. Menyusuri pepohonan bus, Melaleuca sp, mereka siap-siap berburu dengan panah dan tombak.

”Kami mau tangkap saham (kanguru). Nanti sore kami juga sudah kembali dan pasti sudah dapat satu saham,” ujar Thomas mengawali kegiatan berburu, Sabtu (9/4/2011).

Bagi Thomas dan komunitas suku Marind, kawasan Rawa Biru adalah savana kehidupan. Di hamparan rawa seluas sekitar 4.000 hektar, suku Kanum, subsuku Marind, di Kabupaten Merauke, Papua, itu menggantungkan hidup. Berburu dan meramu dilakoni saban hari oleh empat keluarga besar (marga) yang menetap di kampung yang terletak di kawasan Taman Nasional Wasur, yakni marga Dimar, Banggu, Maiwa, dan Sanggra.

Kehidupan berburu memang kental di Kampung Rawa Biru yang dihuni sekitar 60 keluarga atau 248 jiwa suku Kanum. Para pria dewasa, bahkan anak laki-laki usia SD, berburu hewan di setiap waktu.

Hamparan savana, rawa, dan pepohonan bus merupakan habitat bagi kanguru tanah, kanguru lapang, rusa, babi, ikan, dan buaya.

Sejak kecil, anak-anak suku Kanum sudah diakrabkan dengan ”kemurahan” alam. Oleh orang tua mereka, anak-anak itu diajari cara menghidupi diri lewat berburu ataupun meramu.

Antonius Dimar (19) belajar berburu saham sejak umur 9 tahun. Sejak usia bocah, ia telah mahir menyergap rusa dan kanguru dengan sekali melepaskan anak panah dari busurnya atau sekali melemparkan tombak.

Tradisi setempat mewajibkan seorang ayah untuk mengajak anak laki-lakinya berburu. Sering kali ajakan berburu lebih diminati anak-anak mereka daripada bersekolah. Bolos sekolah sesuatu yang lumrah.

Sementara kaum pria berburu, kaum perempuan bertugas mengurus bayi-balita, serta menokok sagu, dan memasak.

Rupanya, tidak saban hari warga setempat berburu. Biasanya berburu dilakukan setelah jeda 3-4 hari. Pasalnya, selain tempat perburuan kian jauh, jumlah hewan buruan pun makin berkurang. Hewan buruan kian terdesak menjauh dari perkampungan.

Biasanya, sekali berburu, Antonius menempuh perjalanan menggunakan kole-kole (sampan dari kayu pohon bus) menuju lokasi menyusuri rawa. Sekali perjalanan butuh waktu 6 jam.

Mereka sering kali harus tidur di hutan 1-2 malam dengan membawa bekal secukupnya. Jika ingin berburu rusa, malam hari mereka tidur di hutan dan baru keesokan harinya berburu.

Lain lagi jika urusan berburu buaya. Untuk memburu hewan jenis melata ini, mereka menyusuri sungai pada malam hari. Senter adalah alat utama.

Hukum adat

Perburuan oleh warga suku Kanum lebih didorong faktor ekonomi. Buruan tidak semuanya mereka konsumsi sendiri, tetapi mereka jual. Uang dari hasil berburu mereka gunakan untuk membeli bahan kebutuhan pokok, seperti beras, garam, rokok, dan pinang, serta memberikan uang saku kepada anak.

Uang hasil berburu biasanya akan habis dalam 3-4 hari. Jika uang sudah habis, mereka berburu lagi. ”Hanya dari berburu kami bisa dapat uang,” ungkap Markus Dimar (27), warga Kampung Rawa Biru.

Mereka umumnya menjual buruan ke Merauke. Di perkotaan, kulit buaya dijadikan bahan kerajinan yang menghasilkan dompet, tas, dan sepatu. Adapun daging rusa dijadikan dendeng, sate, dan bakso. Harga daging hewan buruan relatif murah. Rusa yang diburu semalaman dihargai Rp 20.000 per kg. Berat bersih daging rusa sekitar 20 kg per ekor, sedangkan kanguru dihargai Rp 30.000 per ekor.

Hasil itu harus dibagi rata sesuai jumlah orang yang berburu, biasanya 2-3 orang. Buaya relatif memiliki harga jual lebih tinggi, sebanding dengan risiko memburunya, tetapi hanya kulitnya yang laku dijual. Daging buaya biasanya dikonsumsi sendiri oleh keluarga pemburu.

Nicolaus Nek Tjong (66), pengusaha dendeng rusa di Merauke, mengaku kini semakin susah mendapatkan pasokan daging rusa. Padahal, tahun 1990-an, rusa masih bisa ditemukan berkeliaran di tepi kota Merauke. Kini, pemburu harus mencari rusa di pedalaman. Pihaknya pun sekarang lebih banyak dikirimi daging rusa dari pedalaman jauh dari Merauke, seperti Kimam, Kondo, dan perbatasan RI-Papua Niugini.

Karena tidak ingin rusa makin langka, Nek Tjong selektif membeli daging dari pemburu. Hanya daging rusa dewasa yang dibelinya. ”Kami hanya pilih rusa dewasa. Yang masih muda kami tolak,” kata Tjong.

Komunitas suku Kanum pun mulai menyadari langkanya hewan buruan. Menyikapi hal itu, komunitas itu membuat perjanjian bersama. Hanya hewan dewasa yang boleh diburu. Adapun anakannya dibiarkan hidup. Mereka juga menerapkan hukum adat sasi untuk melindungi populasi hewan.

Adat ini melarang berburu atau mengambil komoditas hutan tertentu yang diikrarkan oleh satu marga dalam satu kurun waktu tertentu. Umumnya, sasi berlaku 1-2 tahun dan harus dipatuhi semua marga. Sasi diberlakukan dengan cara memasang patok-patok kayu di wilayah tanah ulayat marga yang berakad.

Masa jeda itu bertujuan memberikan berkesempatan kepada hewan untuk berkembang biak. ”Ini salah satu wujud kearifan lokal masyarakat Marind dalam menjaga kelestarian alam,” kata Dadang Suganda, Kepala Balai Taman Nasional (TN) Wasur.

Pihak Balai TN Wasur sendiri tidak melarang warga asli yang tinggal di dalam kawasan TN Wasur untuk berburu hewan selama itu dilakukan dengan alat-alat tradisional. Apalagi, orang Marind sudah lebih dulu menghuni taman seluas 413.810 hektar itu sebelum TN Wasur terbentuk. Balai TN Wasur melarang perburuan menggunakan senapan. Adang mengakui, meski memang ada penurunan populasi, jumlah rusa dan kanguru di TN Wasur masih terkendali, 1-2 ekor per hektar.

Tumpuan hidup

Selain sebagai ladang protein bagi suku marind di sekitar TN Wasur, Rawa Biru juga menjadi sumber kehidupan bagi 195.176 penduduk Merauke.

Rawa ini merupakan sumber air bersih. Tiap hari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Merauke mengolah 5,2 juta liter air dari rawa itu untuk dialirkan ke rumah-rumah penduduk.

Menurut Kepala PDAM Merauke, Stasiun Rawa Biru, Jimi S Lobo, air bersih itu berasal dari mata air, hujan, dan air laut yang masuk ke rawa.

Begitu pentingnya Rawa Biru, warga melestarikannya dengan sejumlah kesepakatan bersama. Tidak boleh memandikan ternak di rawa. Juga tak boleh membuang sampah di rawa.

Kini warga bahu-membahu membersihkan tumbuhan tebu rawa (Hanguana sp). Akar tumbuhan ini diduga menyerap air dan mengganggu sirkulasinya.

Sumber; http://regional.kompas.com

TN Wasur, Plasma Nutfah Lintas Benua

oleh; Erwin Edhi Prasetya & Timbuktu Harthana

<a href='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?n=a3126491&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/avw.php?zoneid=951&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a3126491' border='0' alt='' /></a>

Lokasinya bukan di Australia. Namun, atmosfer ”aborigin” bisa Anda temukan di sini. Paling tidak, kanguru, rawa-rawa berair bening, dan hamparan savana menyedot perhatian Anda. Jangan lupa mengelus rumah rayap sebelum kemudian menyentuh tugu perbatasan negara RI-Papua Niugini.

Itulah secuil gambaran eksotisme di Taman Nasional (TN) Wasur, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Begitu memasuki kawasan taman nasional di ujung timur Nusantara ini, deretan rumah rayap (musamus) menjulang di sela deretan pohon bus (Malaleuca sp), salah satu tanaman endemik di tanah Papua bagian selatan.

Koakan burung alap-alap dan siulan nakal burung nuri sesekali memecah kesunyian. Dari atas kap mobil gardan ganda yang Kompas tumpangi, terpotret satu per satu keragaman hayati dan roda kehidupan penduduk lokal.

Taman nasional seluas 413.810 hektar ini terbentang di tiga distrik, yakni Distrik Sota, Naukenjerai, dan Merauke, di Kabupaten Merauke. Gerbang masuk TN Wasur, memang tak terlalu jauh dari pusat kota Merauke, hanya 15 kilometer, atau hanya 20 menit menggunakan kendaraan sewaan. Namun, untuk menjelajahi seluruh kawasan, butuh waktu lebih dari dua malam. Maklum, tiap lokasi yang menyuguhkan panorama alam selatan Papua, harus dijangkau dengan melewati jalan tanah merah dan rawa-rawa.

”Potensi wisatanya cukup besar. Namun wisata di TN Wasur memang untuk yang memiliki minat khusus,” ujar Dadang Suganda, Kepala Balai TN Wasur, awal April lalu.

Sebagai contoh, Danau Rawa Biru, memendam keanekaragaman flora dan fauna. Untuk berpetualang menelusuri TN Wasur dibutuhkan fisik yang prima. Pada musim penghujan, pengunjung harus menaiki mobil gardan ganda yang sudah dimodifikasi dengan roda ukuran ekstra agar tangguh melewati medan berawa berlumpur. Atau, menjajal sepeda motor trail jika ingin lebih tertantang. Tarifnya beragam. Mobil garda ganda Rp 2 juta per hari.

Ongkos sewa kendaraan memang cukup menguras dompet. Tetapi, tarif masuk ke kawasan itu relatif murah. Wisatawan lokal cukup membayar Rp 1.000 per orang. Wisatawan mancanegara dikenai Rp 10.000. Ada baiknya Anda mendapatkan surat izin masuk kawasan dan mencari informasi lebih dulu di kantor Balai TN Wasur. Siapa tahu bisa dapat panduan lebih lengkap.

Agung Widya, petugas di TN Wasur memberi saran, sebaiknya berkunjung di musim kemarau. Sebab, lahan basah di kawasan berupa rawa-rawa, ini saat kemarau akan mengering dan menjadi tempat mencari makan ratusan jenis satwa di taman nasional. Ribuan burung migran dari Benua Australia juga hinggap di sini. Saat kering, jalan mudah dilewati, dan petualang sejati bisa berkemah di padang savana di daerah Ukra dan Kondo.

Inilah surga plasma nutfah yang tersebar pada enam ekosistem, yaitu ekosistem rawa berair payau musiman, rawa berair tawar permanen, pesisir berair tawar, daratan berair tawar, daratan berair payau-asin, dan daratan berair payau.

Vegetasi di TN Wasur, di antaranya hutan dominan bus (Melaleuca sp), hutan co-dominan Melaleuca sp-Eucalyptus sp, hutan bakau, savana, padang rumput, dan padang rumput rawa. Jenis tanaman yang banyak ditemui adalah pohon bus, akasia, kayu putih, dan pohon besar lainnya dengan diameter di atas 100 cm. Tak dimungkiri, anggrek juga salah satu kekayaan flora yang tersimpan di TN Wasur, seperti anggrek nanas.

Berdasarkan catatan Balai TN Wasur, terdapat 34 spesies dari 80 spesies mamalia yang telah teridentifikasi. Di antaranya mamalia endemik, seperti kanguru lapang (Macropus agilis), kanguru hutan (Darcopsis veterum), dan kanguru tanah (Thylogale brunii). Ukurannya memang lebih mungil dibandingkan dengan kanguru di Australia, tetapi di situlah keunikannya: kita dapat melihat lompatan lincah kanguru dari dekat. Anda bisa mengelus atau menggendong anak kanguru.

Selain itu, rusa (Cervus timorensis), musang hutan (Dasyurus spartacus), dan kuskus berbintik (Spilocuscus Petaurus breviceps), juga bisa kita lihat di taman nasional ini. Sebagai kawasan lahan basah, di TN Wasur banyak hidup reptil dan amfibi. Hasil survei menunjukkan ada 26 jenis reptil, di antaranya 2 jenis buaya, yakni buaya rawa dan buaya muara, 3 jenis biawak (Varanus sp), 4 jenis kura-kura, 5 jenis kadal (Mabouya sp), 8 jenis ular (Condoidae, Liasis, dan Pyton), dan 3 jenis katak yaitu katak pohon, katak pohon irian, dan katak hijau.

Dadang menuturkan, di sejumlah titik di kawasan Danau Rawa Biru, pengunjung bisa mengamati tingkah polah burung cenderawasih (Paradisea apoda novaguineae), dan aneka jenis burung lain yang hidup bebas. Namun, memang tak mudah bertemu dengan burung berbulu indah itu, sebab kita harus menyeberangi rawa-rawa dengan kole-kole (perahu tradisional suku Marind yang terbuat dari kayu utuh pohon bus).

Tidak hanya cenderawasih, di taman nasional yang berbatasan langsung dengan Suaka Marga Satwa Tonda Papua New Guniea, itu tercatat 403 spesies burung dengan 200 spesies burung endemik Papua, dan 114 di antaranya berstatus dilindungi. Seperti garuda irian (Aquila gurneyei), kakatua raja (Probociger atherimus), mambruk (Crown pigeons), kasuari (Cassowary), dan elang laut dada putih (Haliaetus leucogaster).

Di Danau Rawa Biru, bulan Agustus-November, selalu berdatangan ribuan burung migran dari Australia dan Selandia Baru, seperti burung ndarau/bangau abu-abu, pelikan, ibis, dan paruh sendok (Royal spoonbills). Bahkan, hasil pengamatan 2009, tercatat burung biru laut ekor hitam (Limosa limosa) yang ditandai bendera hitam putih oleh China, bermigrasi mencari makan di Rawa Biru.

Kehadiran burung-burung migran menjadi daya tarik khusus karena hanya terjadi sekali setahun. Biasanya, ribuan burung migran itu dijumpai di daerah Rawa Dogamit, Rawa Blatar, dan Pantai Ndalir.

Sekitar 48 jenis insekta, di antaranya rayap tanah, sang arsitek bomi, yakni rumah rayap yang tingginya bisa mencapai 5 meter, menghuni taman nasional ini. Sebaran ribuan bomi, yang konon hanya ada di Afrika, Australi, dan Papua, ini menjadi daya tarik TN Wasur. Tak ketinggalan, 75 spesies kupu-kupu, beterbangan di savana Wasur.

Yang suka memancing, bisa berburu ikan gabus, betik, atau arwana silver, yang ikut menghuni rawa-rawa ini. Masyarakat setempat biasa berburu anakan ikan arwana untuk dijual, di bulan November-Desember. Totalnya, 39 jenis dari 72 jenis ikan di hamparan rawa-rawa di TN Wasur telah teridentifikasi.

Bila perjalanan dilanjutkan lurus ke arah timur, mengikuti jalan trans-Papua, wisatawan akan sampai di tugu perbatasan RI-PNG dan Tugu Sabang-Merauke di Sota. Jaraknya sekitar 79 km dari Kota Merauke. Sepanjang perjalanan kita akan melintasi beberapa kampung dari 15 perkampungan yang ditinggali oleh suku-suku asli. Mereka telah bermukim di sini sebelum kawasan ini ditetapkan sebagai taman nasional.

Empat suku itu adalah suku Marind, dan tiga subsuku Marind, yaitu suku Marory Men-Gey, Yei, dan Kanum. Warga keempat suku masih memegang erat budaya hidup meramu, mengumpulkan bahan makanan, seperti sagu dari hutan dan hasil kebun, serta berburu secara tradisional. Masyarakat suku Kanum dan Marind, yang tinggal di dalam kawasan Wasur hidup dengan berburu kanguru dan rusa. Namun, populasi satwa terjaga melalui kearifan lokal berupa sasi: larangan mengeksploitasi alam secara berlebihan.

Masyarakat suku Marind adalah masyarakat yang ramah dan terbuka kepada orang lain. Anda bisa ikut mereka berburu. Sebagai langkah pendekatan, sodorkankah pinang dan rokok.

Sempatkan pula menyusuri Danau Rawa Biru dengan naik kole-kole. Lengkaplah sudah petualangan Anda di surga flasma nutfah lintas benua.

sumber; http://regional.kompas.com

Suku Marind Hidup di Antara Busur dan Pacul

Oleh Erwin Edhi Prasetyo dan Timbuktu Harthana

Cornelia Mahuze (60) mengaso di pematang sawahnya, di Kampung Urumb, Merauke, Papua. Dinaungi bivak dari terpal kusam, ia melepas penat sehabis panen padi. Di belakangnya, tertumpuk karung berisi gabah yang siap diangkut ke rumah. Usia senja tak menyurutkan semangat perempuan suku Marind ini untuk bertani.

Siang itu, Minggu (10/4), langit cerah ketika kami berjumpa dengannya di dusun yang sunyi -- sebuah tempat yang terletak di ujung timur Nusantara. Kami menjangkau dusun ini setelah melintasi savana dan menembus lebatnya pohon bus, dan sela-sela musamus (rumah rayap).

Suku Marind yang mendiami Merauke, pesisir Selatan Papua kini bergelut dengan modernisasi. Tombak, busur, pasak, dan kahanggat (batang bambu yang diruncingkan), perlahan diganti pacul, sekop, dan traktor. Meski hasrat berburu tetap menyala.

Cornelia bersama 200-an keluarga di Kampung Urumb, adalah sebagian warga Marind yang sudah cakap bersawah dan menghasilkan sekitar 1,5 ton beras tiap kali panen. Keluarga Cornelia bertani padi sejak 1962, saat beberapa warga Marind di pesisir pantai hijrah ke daratan. Orangtua mereka belajar bersawah dari transmigran asal Jawa.
Berburu kanguru atau rusa dengan bekal busur dan tombak pun mulai jarang mereka lakukan. Demikian pula menokok (mengikis) daging pohon sagu dengan kahanggat, hanya dilakoni di waktu-waktu tertentu, seperti menjelang upacara adat.

Kepala Pusat Kajian Pengembangan Masyarakat Marind, Fredreikus Gebze, menuturkan, transformasi itu bermula awal tahun 1900-an, ketika gelombang pendatang masuk ke Merauke. Kebanyakan pendatang adalah orang Jawa yang dibawa Belanda, dan di Merauke kini mereka dikenal dengan sebutan Jamer (Jawa Merauke).
Pertemuan itu membuat orang Marind--yang umumnya berpostur tegap tinggi besar dan hidung mancung--mulai kenal pertanian padi dan palawija. Lahan persawahan pun mulai dibuka di sekitar pantai Merauke, dan Distrik Kurik. Saat tulaj, sekitar 1910, sejumlah warga Marind membuka sawah dan menanam padi. Perkenalan suku Marind pada sistem pertanian modern berlanjut hingga gelombang transmigrasi tahun 1965, sampai 1995. Pada tahun 1985, pemerintah merelokasi keluarga-keluarga Marind di daerah transmigran, dan membekali dengan pertanian modern, dari mengolah tanah dengan pacul dan traktor, menabur benih, dan memupuk, hingga memanen.

Meski transformasi itu tidak berjalan mulus, suku Marind yang tinggal di sekitar pemukiman transmigrasi, seperti Distrik Semangga, Kurik, dan Kumbe, secara perlahan menyerap kecakapan budi daya. Vincentius Takai Mahuze (43) misalnya, warga Kampung Urumb, Distrik Semangga, bisa mendapatkan 40 karung gabah dari sawahnya seluas 1 ha, setiap panen. Minimal, dia mengantongi Rp 3,6 juta dari hasil penjualan 1,2 ton beras.


Walaupun sudah bertani, budaya meramu, memangkur sagu, menjaring ikan, berburu dan berkebun dengan metode sederhana, yakni wambat (membuat deretan bedeng setinggi lutut orang dewasa untuk ditanami umbi-umbian dan pisang), tetap mereka pertahankan. Ini, tersisa pada suku Marind yang bermukim di pedalaman hutan dan rawa. Mereka adalah suku Kanum, subsuku Marind, yang mendiami Kampung Yanggandur, Torai, Erambu, Sota, dan Rawa Biru, di Distrik Sota

Jadilah aktivitas bertani melengkapi keseharian suku Marind yang asli, yaitu keluar-masuk berburu rusa, babi, buaya, dan kanguru. Hasil buruan mereka dijual ke Merauke tanpa diolah lebih dulu. Oleh warga perkotaan, daging rusa itu diolah sebagai bahan bakso dan dendeng. Merauke adalah penghasil dendeng rusa yang populer, di samping kerajinan tas, dompet, ikat pinggang dari kulit buaya.

Menurut Jago Bukit, Kepala Badan Pengembangan Sosial Ekonomi Yayasan Santo Antonius, Merauke, warga suku Marind tak bisa bertahan dengan meramu dan berburu. Sebab, hutan dan sabana perburuan terdesak dan menciut, karena lahan mereka dikapling pengusaha.

Sektor pertanian, memang fokus dan unggulan Kabupaten Merauke. Merauke memiliki lahan pertanian potensial 2,5 juta hektar (ha), dengan lahan basah 1,9 juta ha. Tahun 2010, Pemkab Merauke menerbitkan 46 izin investasi bidang pertanian meliputi lahan 228.000 ha, termasuk di tanah-tanah ulayat.

Ironisnya, tanah ulayat sering dilepas dengan harga murah pada pemilik modal. Banyak tanah ulayat dijual hanya Rp 10 (sepuluh rupiah!) per meter persegi, karena iming-iming perusahaan yang akan perumahan, pendidikan, dan lapangan kerja.

Sebaliknya, harus dibuka juga fakta, tak semua investor sekadar cari untung. Mereka eksplisit punya andil menggerakkan perekonomian daerah dan menyerap tenaga kerja. Bayangkan, tanpa investasi dan campurtangan pemodal dari Jakarta,--dan masuknya teknologi baru--Merauke, tentu sulit sekali berkembang.

Susahnya, sebagian warga tidak memiliki ketekunan dan keuletan bertani. Ini wajar, karena sekian generasi mereka diberkahi kemurahan alam. Karenanya, seperti kata Wakil Ketua Lembaga Masyarakat Adat Marind-anim, Alberth Gebze Moyuend: sebagian warga meninggalkan sawah mereka karena merasa tak sesuai kultur dan adat. Tercatat, lahan sawah yang terbengkalai mencapai 34 persen dari 38.402 ha lahan pertanian di Merauke.


Pastor Andreas Fanumbi Pr, pendamping masyarakat Marind di Distrik Semangga melihat masyarakat Marind mengalami benturan budaya. Mereka butuh pendampingan dan berkelanjutan untuk bergelut dengan perubahan keadan dan budaya. Diperlukan pendekatan budaya dan religi, dengan melibatkan tiga tungku yakni pemerintah, masyarakat, dan pihak ketiga. Di situlah, pendidikan diperlukan.

Bupati Merauke Romanus Mbaraka bertekad melindungi masyarakat Marind. Ia menawarkan konsep penyertaan modal. Artinya, tanah adat yang kelak jadi lahan usaha perusahaan, sebaiknya dihitung sebagai penyertaan modal...

”Saya senang bertani (padi). Anak-anak di sini juga su pandai bertani,” ujar ibu tujuh anak ini menggambarkan aktivitas keseharian warga Dusun Serapu, Kampung Urumb, Distrik Semangga, Merauke. Ia sendiri sudah melakoni kegiatan bercocok tanam sejak usia 10 tahun.

Sumber; http://regional.kompas.com

Uniknya Adat Barapen

Sansundi adalah sebuah desa yang termasuk ke dalam Distrik Bondifuar di bagian utara Kabupaten Biak Numfor, Pulau Biak, Papua. Sebuah pulau dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi dan kaya akan potensi bahari. Nah, seperti Papua pada umumnya, disini terdapat suatu budaya ataupun tradisi yang sangat unik dan masih hidup sampai sekarang, yaitu tradisi Bakar Batu atau dalam bahasa biaknya dikenal dengan Barapen.

Tradisi Bakar Batu ini telah berlaku turun temurun pada masyarakat Biak. Disebut Bakar Batu karena masyarakat menggunakan batu untuk memasak makanan, dan batu yang digunakan masyarakat Biak termasuk batu karang karena memang Pulau Biak adalah pulau yang terbentuk dari Karang. Adapun bahan makanan yang biasa dimasak seperti keladi, singkong, pisang, dan bahan makanan lainnya yang dibungkus dengan daun pisang. Bahan makanan yang hendak dimasak disusun rapi di atas batu yang telah dibakar dengan menggunakan kayu hingga merah membara.

Awalnya kayu bakar ukuran kira-kira sebesar pergelangan kaki disusun berbentuk persegi, bertumpuk-tumpuk disesuaikan dengan banyaknya makanan yang akan dimasak. Kayu yang telah ditumpuk dibakar sehingga menghasilkan nyala api yang membara, di atas kayu yang telah menyala ini ditumpuk sejumlah batu yang jumlahnya kira-kira cukup untuk mematangkan makanan yang akan dimasak. Batu yang telah ditumpuk diatas nyala api ini ditata sedemikian rupa dan didiamkan selama kurang lebih setengah jam sampai seluruh kayu menjadi arang dan batu dirasa cukup panas. Arang-arang serta sisa pembakaran kayu dipisahkan sehingga tersisa hanya tumpukan batu yang diratakan dan siap dipakai memasak.

Makanan disusun rapi di atas batu yang panas membara, beralaskan daun yang lebar, seperti daun keladi dan sapiai yang biasa digunakan masyarakat untuk membungkus batu. Makanan ini ditumpuk lagi dengan batu kemudian di atasnya disusun lagi makanan lain yang sebelumnya juga diberi alas, begitu seterusnya sampai lapisan terakhir dan tidak ada lagi makanan yang akan dimasak. Tumpukan batu di lapisan paling atas dibungkus menggunakan daun hingga benar-benar tertutup rapat agar panas yang dihasilkan batu tetap terjaga dan tidak cepat hilang. Proses memasak ini cukup satu hingga dua jam sampai makanan benar-benar masak dan siap untuk dikonsumsi.

Begitu makanan matang, daun pembungkus dilepaskan dan batu yang ditumpuk disingkirkan sehingga tersisa hanya makanan yang telah masak. Keladi dan bahan makanan lain dimasukan ke dalam wadah dan makanan pun siap untuk dikonsumsi, biasanya masyarakat suka mencampurkan keladi dengan parutan kelapa, rasanya sungguh enak dan gurih.

Selain itu masyarakat juga biasa mengadakan Barapen untuk ritual-ritual khusus atau dalam rangka penyambutan orang-orang penting seperti kepala adat atau para pejabat yang berkunjung ke daerah mereka. Bakar batu untuk penyambutan ini sangat spesial, konon katanya ada sekelompok orang yang bisa berjalan di atas bara batu untuk menyusun makanan dengan kaki telanjang. Sebelum pertunjukan berjalan di atas batu dimulai biasanya ada ritual khusus yang mesti dilakukan, salah satunya mengoleskan daun ke kaki mereka. Sayangnya, jenis daun tersebut tidak boleh diberitahu kepada masyarakat umum. (HP/Fadhlan Nuzul)


Sumber; http://www.gatra.com

Tuesday, March 29, 2011

Noken Khas Papua Memang Multifungsi

JAKARTA, KOMPAS.com - Noken merupakan kerajinan tangan khas Papua berbentuk seperti tas. Ada 250 etnis dan bahasa di Papua, namun semua suku memiliki tradisi kerajinan tangan Noken yang sama. Fungsi Noken sangat beragam. Namun, Noken biasa dipakai untuk membawa barang seperti kayu bakar, tanaman hasil panen, sampai barang-barang belanjaan. Noken yang kecil biasa dipakai untuk membawa kebutuhan pribadi. Tak hanya itu, Noken juga dipakai dalam upacara dan sebagai kenang-kenangan untuk tamu.

Noken diusulkan pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata untuk masuk dalam nominasi warisan budaya takbenda Unesco. Ia diusulkan dalam Daftar yang Membutuhkan Perlindungan Mendesak.

"Noken kalau tidak cepat diangkat ke permukaan bisa punah," kata Menbudpar Jero Wacik pada saat penandatangan berkas nominasi warisan budaya takbenda Unesco, di Gedung Sapta Pesona Jakarta, Senin (28/3/2011). Dalam berkas nominasi Noken dipaparkan kondisi pelestarian Noken. Di kota-kota besar sudah tidak ada yang menjual Noken. Hanya di Pasar Wamena yang masih menjual Noken tradisional.

Kendala lain adalah semakin sedikit orang yang bisa membuat Noken. Kalaupun ada, sebagian besar adalah wanita berusia di atas 40 tahun. Selain itu, para perajin juga kesulitan mendapatkan bahan.

"Banyak yang memakai plastik karena susah mencari bahan kayu," kata Julianus dari Komunitas Papua kepada Kompas.com. Ia mengakui tempat penjualan Noken saat ini sudah sangat jarang. Padahal Noken merupakan salah satu ikon budaya Papua.

Memang ada usaha pelestarian Noken dengan melakukan pelatihan Noken di sanggar-sanggar. Dalam rangka pengusulan nominasi Noken, terdapat 311 komunitas sanggar Noken yang dilibatkan. Noken terbuat dari serat kayu yang dianyam para ibu di waktu luang. Beberapa daerah menggunakan pewarna dan motif tertentu sehingga tampilannya semakin menarik. Biasanya Noken diselempangkan atau digantung di kening. Menurut Julianus, perlu waktu dua bulan untuk membuat Noken ukuran yang besar.

Tari Tradisi Bali dinominasikan dalam Daftar Representatif Budaya Takbenda (Representative List of Intangible Cultural Heritage). Noken atau kerajinan tangan masyarakat Papua sebagai nominasi Daftar yang Membutuhkan Perlindungan Mendesak (Urgent Safeguarding of Intangible Cultural Heritage). Sedangkan, TMII sebagai nominasi Penciptaan Ruang Budaya untuk Pelindungan, Pengembangan, dan Pendidikan Warisan Budaya (Best Practices of Intangible Cultural Heritage). "Ada rasa bangga kami dari masyarakat Papua karena telah terpilih untuk diusulkan sebagai nominasi," kata Julianus.

Ia menuturkan imbas dari pengusulan ini selain rasa bangga masyarakat Papua karena pengakuan juga dari aspek ekonomi dapat terbantu. Dengan pengusulan, ia berharap Noken semakin terkenal dan banyak orang akan membeli Noken. Noken juga menjadi salah satu cenderamata untuk para wisatawan yang berkunjung ke Papua.


Source: http://travel.kompas.com

Tari Bali, Noken dan TMII ke Unesco

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia kembali mengusulkan tiga unsur budaya untuk dinominasikan ke Unesco di tahun 2011. Ketiga unsur budaya tersebut adalah Tari Tradisi Bali, Noken Papua, dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

"Tahun-tahun lalu kita sudah mendaftarkan beberapa. Wayang, batik, keris, angklung sudah diakui. Setelah diakui kita tanggung jawab untuk lestarikan. Kalau hilang, bisa-bisa dicabut oleh Unesco," kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik pada saat penandatangan berkas nominasi warisan budaya takbenda Unesco, Senin (28/3/2011).

Jero menuturkan tidak semua budaya bisa didaftarkan. Jika semua didaftarkan, lanjutnya, harus mengeluarkan ratusan miliar rupiah. Selain itu, pihak Unesco juga membatasi nominasi setiap negara.

"Mendaftarkan tiga saja betapa banyak yang kita libatkan, ribuan. Misalnya tari Bali ada 9 yang didaftarkan. Tari Bali itu ribuan tari. Ini saja sudah melibatkan 9 kabupaten, dari tiap kabupaten dipilih satu tarian," ungkapnya.

Hal lain yang diperlukan menurut Jero adalah pencarian dokumen. "Dokumen ini untuk membuktikan apa tari Bali memang dari Bali. Mereka tidak serta merta menerima. Mereka akan cek satu per satu," katanya. Karena itu, ia berharap mulai saat ini pendokumentasian pada budaya akan lebih baik.

"Selembar lontar saja sudah kuat. Seperti dulu saat pendaftaran angklung menggunakan dokumentasi dari lontar," kisahnya.

Sementara itu, tambah Jero, Noken yang merupakan kerajinan tangan khas Papua dipilih karena ada kekhawatiran jika tidak cepat diangkat ke permukaan, maka Noken bisa punah. Saat ini sudah tidak banyak orang yang bisa membuat Noken. Bahkan, di kota-kota besar di Papua jarang yang menjual Noken.

"Kita pilih Noken dari sekian banyak budaya di Papua. Mana yang kental di antara rakyat Papua. Ternyata Noken mengena, ada di semua kabupaten di Papua," ujar Jero. Sedangkan TMII, menurutnya, adalah warisan budaya Indonesia.

"TMII ini karya Ibu Tien. Waktu dibangun, banyak demo. Tapi sekarang jadi karya sejarah. Waktu 2004 saya jadi menteri, datang ke TMII dengan Presiden, GM TMII waktu itu sampai menangis karena akhirnya baru ada lagi Presiden yang datang. Janganlah kaitkan politik dan budaya," katanya.

Tari Tradisi Bali dinominasikan dalam Daftar Representatif Budaya Takbenda (Representative List of Intangible Cultural Heritage). Noken atau kerajinan tangan masyarakat Papua sebagai nominasi Daftar yang Membutuhkan Perlindungan Mendesak (Urgent Safeguarding of Intangible Cultural Heritage). Sedangkan, TMII sebagai nominasi Penciptaan Ruang Budaya untuk Pelindungan, Pengembangan, dan Pendidikan Warisan Budaya (Best Practices of Intangible Cultural Heritage).

"Best Practices yang sudah pernah kita dapat adalah Museum Batik di Pekalongan. Tari Saman juga masuk dalam nominasi Urgent Safeguarding, tahun ini pengumumannya. Tari Saman dari ujung barat dan sekarang kita daftarkan Noken dari ujung timur," kata Jero.

Dengan masuknya unsur budaya Indonesia ke Unesco, menurut Jero, akan memberikan beberapa fungsi, seperti pengakuan dunia akan budaya Indonesia serta pengingatan kembali bagi diri sendiri untuk pelestarian. Dari segi pariwisata, unsur budaya yang masuk Best Practices tentu akan dipromosikan oleh Unesco ke seluruh dunia.


Source: http://travel.kompas.com