Media Asing Dibatasi Liput Papua

JAKARTA--Pemerintah Indonesia masih membatasi akses peliputan media asing di bumi Papua. Pemerintah belum mencabut wajib lapor bagi wartawan asing yang ingin meliput di Papua. Alasannya, untuk melindungi wartawan dari potensi gejolak keamanan. Apalagi, keselamatan wartawan asing di sebuah negara menjadi isu sensitif.

West Papua Report (February 2012)

The trial of five Papuans who led a peaceful demonstration in October 2011 demanding Papuans' right to self determination has begun. There has been no prosecution of security forces who brutally attacked that demonstration, killing at least three peaceful demonstrators and beating scores more. The U.S. State Department called on the Indonesian authorities to ensure due process for those indicted and urged that Indonesia respect its international legal obligations related to the trial. Human Rights Watch.

AS Desak RI Perhatikan Aspirasi Warga Papua

Amerika Serikat mendesak Indonesia memperhatikan aspirasi warga Papua terkait proses hukum lima aktivis dengan tuduhan makar dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup.

Once again, Australia is silent about violence on its doorstep

In West Papua, it's appeasement, violence and business as usual for Indonesia. There is a vast difference between promises made to the people of West Papua and what actually happens.

Its sheer bloody murder, right on our doorstep

THE highest mountains between the Himalayas and the Andes are the snow-topped crags of West Papua (4884 metres). A tropical glacier pokes out of the sweltering green of Asia's largest rain forests. This is the second largest island on earth, with 15 per cent of all the world's languages, an encyclopaedic biodiversity and a new El Dorado for our resource-hungry world.

Showing posts with label demontrasi damai. Show all posts
Showing posts with label demontrasi damai. Show all posts

Saturday, August 6, 2011

Menhan: Insiden di Pinai Terkait Politik

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, insiden penyerangan yang terjadi di Pinai, Papua pada Jumat (29/7/2011) dan di jalan poros Koya-Abepura, Papua, Senin (1/8/2011) terkait dengan masalah politik. Purnomo mengatakan hal ini tak lepas dari upaya Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang menuntut kemerdekaan Papua.

"Pada prinsipnya, NKRI harus dipertahankan. Tidak ada alasan untuk menaikkan bendera Bintang Kejora di Papua," kata Purnomo kepada para wartawan di sela-sela acara buka bersama di Istana Negara, Jakarta, Rabu (3/8/2011).

Menhan mengatakan, NKRI adalah harga mati. Purnomo mengingatkan agar tak ada lagi anak bangsa yang ingin mengubah NKRI. Pemerintah, sambungnya, akan memproses semua orang yang terlibat dalam organisasi separatisme tersebut.

Ketika ditanya apakah penyerangan di Pinai dan Abepura itu terkait dengan Koferensi Internasional Lawyer for West Papua (ILWP) di London pada Selasa (2/8/2011) silam, Purnomo meragukannya. "Mereka tidak menyadari bahwa konferensi itu telah dilakukan di London," kata Purnomo.

Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam di Mabes Polri menjelaskan, penyerangan di Pinai terjadi ketika 16 anggota OPM, lima diantaranya membawa senjata api laras panjang, mendatangi para pekerja pembangunan menara stasiun televisi di wilayah Pinai. Mereka melarang pembangunan dilanjutkan.

Setelah kejadian itu, jelas Anton, para pekerja melaporkan ke polisi terdekat yang tengah berjaga di rumah Bupati Paniai. Petugas di rumah Bupati lalu menghubungi Kepala Polres Paniai. "Kapolres lalu memerintahkan Brimob untuk mendatangi lokasi," ucap Anton.

Ketika anggota Brimob ke lokasi, tambah Anton, mereka malah ditembaki. Setelah itu, terjadi baku tembak. Kelompok OPM lalu melarikan diri ke arah Timur. Tak ada korban tewas maupun luka dalam peristiwa itu.

Di sekitar lokasi, ucap Anton, polisi menemukan 4 tas, 7 baju loreng, 4 celana panjang, 1 jaket loreng, 7 butir amunisi SS1, 1 butir amunisi Mouser, 2 sangkur, 2 ponsel, dan 1 bundel dokumen OPM.

Sementara itu, Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Papua Komisaris Besar Wachyono mengatakan, dalam penyerangan di jalan poros Koya-Abepura, para pelaku memalang jalan dengan batang pohon.

Menurut keterangan para saksi, setiap kendaraan diminta berhenti. Kemudian, para pelaku segera menyerang penumpang kendaraan. Selain menggunakan parang, para penyerang juga menggunakan senjata api. Akibat penyerangan tersebut, empat orang tewas.

Sumber; http://nasional.kompas.com

RI Berusaha Minimalisir Dampak Demo Papua

Kantor Berita Xinhua: Indonesia berusaha meminimalisir dampak aksi demo di Papua untuk mendukung konferensi tingkat tinggi yang sedang dilangsungkan di London, Inggris.

Sekitar 2.000 masyarakat asli Papua Selasa lalu (2/8) menggelar aksi demo damai Jayapura, untuk mendukung konferensi di London demi menuntut referendum bagi kemerdekaan Papua Barat.

Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty Natalegawa, yang juga pernah menjabat sebagai Duta Besar RI di Inggris hari ini (4/8) mengatakan, aksi untuk menuntut kemerdekaan Papua tidak akan memperoleh dukungan dari pemerintah dan rakyat Inggris, karena pemerintah Inggris konsisten mendukung kebiajakan otonomi RI di Papua dan Papua Barat. Menko Politik, Hukum, dan Keamanan Indonesia, Djoko Suyanto juga menyatakan, kedua propinsi itu adalah bagian sah dan tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Sumber; http://indonesian.cri.cn

Soal Papua, Pemerintah Harus Cantik Berdiplomasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah harus memiliki mode diplomasi yang elegan dalam menghadapi persoalan di Papua. Pengamat politik LIPI Ikrar Nusa Bhakti mengatakan, pemerintah harus mulai dengan mencari informasi yang detail mengenai latar belakang dan alasan terjadinya konflik belakangan ini di Papua serta tuntutan untuk mengeluarkan referendum yang makin besar.

Pemerintah juga perlu menemukan pihak yang bisa menjadi representasi kelompok untuk diajak berdialog, terutama dari warga asli Papua. Pembentukan jaringan-jaringan pro-kemerdekaan jangan dibalas dengan membentuk jaringan baru yang anti-kemerdekaan. Menurutnya, ini hanya akan memperuncing konflik horizontal di Papua.

"Jangan justru malah timbulkan konflik horizontal, tapi bagaimana cantik membangun diplomasi," katanya di Gedung DPD RI, Jakarta, Jumat (5/8/2011).

Para diplomat dan jajaran Kementerian Luar Negeri diharapkan memahami sejarah Papua di Indonesia dengan sebaik-baiknya sehingga bisa menjalankan diplomasi dengan baik secara utuh. Pihak intelijen juga diharapkan segera menemukan pihak-pihak yang mungkin bertindak sebagai 'provokator' dalam persoalan Papua.

Sejak persoalan Papua bergulir di masa lalu, Ikrar mengatakan, pihak aparat polisi dan TNI serta para diplomat di Kemenlu kerap berpotensi menaikkan tensi permasalahan karena kerap menganggap remeh proses diplomasi dengan masyarakat asli Papua.

Seperti diberitakan, sejumlah peristiwa kekerasan kembali terjadi di Papua. Organisasi Papua Merdeka (OPM) diduga melakukan penyerangan di dua lokasi di Papua, yaitu di Pinai dan di Jalan Poros Koya-Abepura. Penyerangan di Pinai menewaskan tiga orang sipil dan satu prajurit TNI.

Sumber; http://internasional.kompas.com

Konferensi di Inggris, Papua Bergejolak

Beberapa hari terakhir Papua bergejolak. Senin (01/08) terjadi insiden penembakan yang menewaskan 4 orang. Sementara itu di Oxford, Inggris, Selasa (02/08) digelar Konferensi Para Pengacara Untuk Papua (ILWP). Salah satu agendanya adalah membahas status Papua sebagai bagian dari Indonesia. Dua peristiwa ini ada kaitannya, demikian menurut Fritz Ramandey dari Komnas HAM Papua.

"Di Papua kalau ada agenda besar seperti ini biasanya diikuti dengan ekses," kata Ramandey. Kepada Radio Nederland ia menjelaskan di Jayapura muncul berbagai demonstrasi mendukung konferensi ILWP di Inggris.

"Menurut hasil pemantauan sementara Komnas HAM ekses ini dampaknya adalah satu terjadi eskalasi di tingkat lokal. Kedua, ini dijadikan justifikasi oleh tentara untuk melakukan tindakan kamtibnas (kemanan dan ketertiban nasional, red.). Atas nama menegakkan keamanan di wilayah mereka bisa melakukan tindakan."

Lokasi sama
Pihak kepolisian sendiri menuduh Organisasi Papua Merdeka berada di balik serangan yang menewaskan tiga pria dan satu perempuan di Desa Nafri Jayapura itu. Namun, OPM seperti yang dikutip oleh berbagai media di Indonesia menyangkal keterlibatan mereka.

Menurut Fritz Ramandey, OPM memang sering dikaitkan dengan aksi penembakan yang dilakukan oleh warga sipil. Tapi, sampai saat ini belum ada pelaku yang ditangkap sehingga belum bisa dipastikan apa latar belakang penembakan ini. Menurut Ramandey, ini adalah kedua kalinya terjadi insiden penembakan di lokasi yang sama.

"Sebenarnya kalau dilakukan penyisiran pasti bisa teridentifikasi ke mana para pelaku bergerak. Tempatnya sangat mudah untuk dilokalisir oleh polisi. Tapi sampai saat ini belum ada pelaku yang ditangkap. Namun demikian, kami mencoba tetap percaya kepada pihak kepolisian untuk mengungkap siapa pelaku penembakan."

OPM
Yang menarik dari insiden ini, menurut Ramandey, adalah dikeluarkannya pernyataan dari OPM. "Ini adalah pertama kali mereka mengeluarkan pernyataan yang menyatakan tidak bertanggung jawan. Dalam insiden-insiden sebelumnya mereka tidak melakukannya," kata Ramandey.

Beberapa tahun lalu Panglima OPM Richard Hans Youweni menyerukan untuk menghindari pemakaian cara-cara kekerasan. Menurut Ramandey OPM tidak punya peralatan yang memadai untuk melakukan serangan, apalagi terhadap polisi/TNI. "OPM mendukung proses dialog. Itu yang penting," kata Ramandey.

Sumber; http://www.rnw.nl

Isu Kesejahteraan Picu Kekerasan Papua

JAKARTA – Tindak kekerasan yang terjadi di Papua akhir-akhir ini tak bisa serta-merta dikaitkan sebagai ulah kelompok Organisasi Papua Merdeka. Lebih tepat jika dilihat bahwa aksi kekerasan itu muncul karena problem kesenjangan kesejahteraan dan pelaku adalah kelompok yang berbeda-beda.

Panglima Tentara Nasional Indonesia Laksamana Agus Suhartono mengatakan hal ini usai bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Kepresidenan, Kamis (4/8). “Di Papua itu kelompoknya banyak dan ini kelompok sendiri-sendiri," ujarnya. Namun, pada umumnya motif utama kelompok-kelompok tersebut adalah kesejahteraan.

Ketua Dewan Perwakilan Daerah Irman Busman menyampaikan hal senada kepada SH, Jumat (5/8) pagi. Kisruh di Papua yang semakin memanas beberapa hari terakhir ini, menurutnya, berpangkal dari persoalan kesejahteraan. Karena itu, perlu supervisi yang lebih intensif terhadap penggunaan anggaran otonomi khusus kepada Papua.

Menurut Irman, hal itu juga yang menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan pemimpin lembaga tinggi negara di Istana, kemarin.

Irman mengatakan bagaimanapun Papua adalah bagian integral negara kesatuan Republik Indonesia, karena itu pemerintah harus memberi perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat. Selama ini terhadap Papua perhatian pemerintah dengan dana otsus sudah cukup banyak.

“Jumlahnya mencapai triliunan,” kata Irman. Namun ternyata anggaran tidak tersalurkan dengan maksimal. Anggaran lebih banyak digunakan untuk kepentingan birokrat dan juga penggunaan yang tidak profesional.

Karena itu, dalam pertemuan dengan pemimpin lembaga tinggi negara, didiskusikan bagaimana perlunya program supervisi dan memberikan pendampingan dalam membuat program kepada pengguna anggaran otonomi khusus. “Intinya untuk meningkatkan capacity building mereka,” papar Irman Busman.

Menurut Irman, pemerintah, DPR dan DPD akan membicarakan lebih lanjut supervisi secara intensif tersebut dan akan dibicarakan lebih mendetail. “Pemerintah pusat perlu turun, kita harus memberi perhatian lebih intensif lagi,” lanjut Irman.

Dengan demikian, pendekatan militer bukan langkah yang bisa diambil untuk menyelesaikan Papua. Setidaknya hal itu dikatakan Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin, Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar, dan Direktur Program The Indonesian Human Rights Monitor (Imparsial) Al Araf secara terpisah.

Tubagas mengatakan dialog antara para stakeholder seperti Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Luar Negeri, dan tokoh Papua untuk kesejahteraan Papua adalah opsi optimal guna mengakhiri permasalahan di wilayah paling Timur Indonesia itu.

Menurutnya, selama ini pemerintah terfokus pada kesejahteraan pusat saja dan mengabaikan daerah. "Pemerintah pusat juga harus mengontrol daerah. Terus duit yang dialokasikan ke sana cukup banyak. Konon setiap orang dapat berapa juta per bulan. Tapi mengapa kok tidak signifikan. Kan harus kita kaji,” ungkapnya.

Haris Azhar mengatakan, situasi yang berkembang di Papua saat ini tercipta akibat dari pendekatan sekuritisasi yang diterapkan pemerintah pusat di Papua. Akhirnya, struktur melihat dan menyelesaikan segala persoalan atau masalah dengan menggunakan pendekatan keamanan.

"Situasi ini terus membuka peluang terjadinya kekerasan," katanya. Itu artinya, kata Haris, model pendekatan pemerintah yang mengedepankan keamanan selama ini tidak efektif atau terbukti gagal.

Al Araf dari Imparsial mengatakan, pendekatan keamanan yang dikedepankan pemerintah pusat justru dalam beberapa kasus menimbulkan masalah pada pelanggaran HAM.

Menhan dan KSAD “Ngotot”

Namun, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan KSAD Jenderal Pramono Edhie Wibowo yang kemarin membesuk anggota TNI yang kena luka tembak di Papua, langsung menuding bahwa kelompok OPM berada di balik aksi kekerasan ini.

Mereka sepakat melakukan pendekatan keamanan dengan mengintensifkan patroli di wilayah Papua. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan TNI akan melakukan penyerangan ke kantung wilayah yang menjadi markas OPM seperti di Puncak Jaya maupun Timika.

"Kita harus tembak duluan sebelum mereka tembak kita," ucapnya tanpa mengkhawatirkan pelanggaran HAM karena gerakan separatis di Papua diyakini sudah merupakan upaya mengganggu kedaulatan. Namun, KSAD mengatakan tak akan menambah pasukan untuk pengejaran kelompok sipil bersenjata.

Uniknya suara dari DPR mendorong penambahan pasukan. Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso mengatakan, pemerintah harus bersikap tegas. "Kalau perlu kirim armada militer jika pemberontakan meluas. Persuasif memang harus, tapi jika sudah terlalu kentara mengarah ke referendum pemerintah harus tegas," ungkapnya, Kamis.

Pendapat Priyo ini berbeda dengan yang disampaikan Tubagus. Wakil Ketua Komisi I ini mengatakan bahwa komisinya akan mengupayakan pertemuan dengan Mendagri untuk membicarakan penyelesaian Papua.

"Penyelesaiannya berangkat dari otonomi khusus (otsus) seperti apa. Lalu, hasil evaluasi otsus seperti apa. Kemudian kami akan mengundang Kemenlu bagaimana kasus seperti ini. Tidak mustahil kita bicara dengan tokoh-tokoh yang ada di Papua," kata Tubagus.

Kepala Pusat Komunikasi Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Hartind Asrin juga mengakui dialog merupakan salah satu opsi upaya penyelesaian konflik di Papua.

Meski demikian, ia menegaskan, di mana pun dialog akan dilakukan baik di Jakarta ataupun di Papua sekalipun, perlu memerhatikan aspek keamanan. “Sebelum proses dialog berlangsung, harus diyakini tidak akan ada aksi serang-menyerang," tutur Hartind.

Berangsur Normal

Sementara itu, memasuki hari kelima pascaaksi pembantaian di Kampung Nafri Distrik Abepura Kota Jayapura situasi di wilayah ini sudah mulai berangsur normal.

Namun, para petani dan pedagang sayur dari Koya masih trauma dengan peristiwa Senin (1/8) lalu yang menewaskan rekan mereka. Pasar Youtefa masih sepi dari pedagang sayur. Hal ini menyebabkan harga beberapa hasil kebun di pasar mulai merangkak naik.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Wachyono mengatakan walau sudah berangsur normal, aparat keamanan TNI/Polri masih tetap waspada dengan melakukan penjagaan di lokasi kejadian. Di samping itu, aparat masih terus mengejar pelaku pembantaian sampai ke perbatasan negara Papua Nugini.

Kemarin siang, tim Bareskrim dan Puslabfor Mabes Polri sebanyak tujuh orang turun ke lokasi kejadian untuk melakukan reposisi. Reposisi bertujuan merunut kembali kejadian penembakan oleh kelompok tak dikenal. Penulis : Vidi Batlolone/M Bachtiar Nur/Lili Sunardi/Ruhut Ambarita/Odeodata H Julia

Sumber; http://www.sinarharapan.co.id

Disinyalir Ada Skenario Kacaukan Papua

JAYAPURA—Sejumlah peristiwa di Papua terkesan menjadi sebuah skenario untuk mengacaukan Tanah Papua. Hal ini diungkapkan Anggota DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Papua dari Partai Demokrat, Diaz Dwijangge kepada Bintang Papua di Jayapura kemarin. “Saat ini pengkondisian sengaja diciptakan untuk mengacaukan keamanan di Papua dengan banyaknya rentetan kejadian di wilayah Papua akhir–akhir ini,” tandasnya.

Diaz Dwijangge menuturkan bahwa terdapat situasi keamanan yang diciptakan untuk menakut-nakuti aktivitas warga Papua. Misalnya saja banyaknya SMS tak bertuan yang beredar menjelang demo besar-besaran hari Selasa (02 /08) lalu. “Walaupun KNPB mengklaim bertanggung jawab atas demo ini, tapi tidak jelas siapa pemimpinnya, siapa, tujuan apa. Berbeda dengan Jaringan Damai Papua yang jelas dikoordinir oleh tokoh agama, adat dan gereja, serta mendapat dukungan dari LSM di Papua,” jelasnya.

Khususnya penembakan di Nafri, lokasi ini sering digunakan untuk menembak kepada warga setempat, dan bukanlah kejadian kali pertama. Namun sampai sekarang aparat tidak bisa menangkap pelakunya. “Jangan anggap main-main dengan masalah ini. Secara logika, kejadian di Gunung Nafri jaraknya hanya 2 kilometer dari pusat Kota Jayapura, dalam sekejap pelaku langsung hilang tanpa bekas,” imbuhnya.

Tetapi sampai saat ini lanjutnya, tidak ada pengakuan dari pihak manapun yang melakukan penembakan itu. “Ini kelompok misterius yang mau kacaukan Papua dan gagalkan proses Papua Tanah Damai,” tukasnya.

Dirinya menyesalkan para korban yang tewas tertembak adalah warga sipil. Namun sepertinya pemerintah mulai dari provinsi /daerah sampai pusat tidak peduli dengan keadaan ini. “Pemerintah sepertinya diam dengan masalah ini dan tidak ada tanggapan,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa kasus Nafri tidak bisa dikaitkan dengan kasus kerusuhan Pemilukada di Puncak - Papua. “Di Puncak Papua murni karena masalah pemilukada, hingga menewaskan belasan orang meninggal. Lokasinya pun Puncak dan Nafri sangat berbeda, jauh sekali. Kabupaten Puncak berada di daerah Pegunungan Tengah Papua, sementara penembakan di Nafri berada di wilayah Kota Jayapura. Tidak bisa disamakan,” jelasnya.

Diterangkannya, siklus kejadian di Papua ada pada tanggal-tanggal permanen yang disakralkan. Misalnya 1 juli yang diakui sebagai HUT OPM, 1 Desember sebagai HUT Papua Merdeka, dan kemarin juga ada kongres ILWP di London Inggris 2 Agustus. “Ini semua kejadian yang diciptakan menjelang tanggal – tanggal yang keramat bagi orang Papua. Ada ketakutan yang saya lihat disini pada tanggal itu digunakan bagi orang-orang misterius yang tidak menginginkan Papua aman,” tuturnya.

Pihaknya juga mengklaim menjelang adanya kongres Jakarta – Papua, banyak kejadian yang mengkambing hitamkan warga Papua.

Lanjut Diaz, skenario semacam ini bukan musiman tetapi sudah diatur. Untuk itu dia menghimbau kepada masyarakat di Papua, agar jangan mudah terprovokasi. (dee/don/l03)

Sumber; http://bintangpapua.com

Papuans demand more attention

Heads of state institutions have called on the President to pay close attention to Papua and Aceh to ensure their special autonomy status benefitted local people, and to prevent growing tensions there from igniting as regional elections draw near.

They warned that the special autonomy status given to Papua and Aceh should adhere to the Unitary State of Indonesia, to ward off calls for a referendum, as have been heard in West Papua.

The concerns were raised during a three-hour consultation meeting between heads of state institutions and President Susilo Bambang Yudhoyono at the State Palace on Thursday.

Attending the meeting, among others, were People’s Consultative Assembly Speaker Taufik Kiemas, House of Representatives Speaker Marzuki Alie, Regional Representatives Council speaker Irman Gusman and Constitutional Court chief justice Mahfud M.D.

“We discussed the latest situations in Papua and Aceh, including their preparation for regional elections. We ask the government to pay special attention to the two,” Irman told reporters after the meeting.

Irman said that the meeting, however, did not discuss Tuesday’s International Lawyers for West Papua conference in Oxford, England, which campaigned for a legal review of the 1969 Act of Free Choice that led to the incorporation of West Papua into Indonesia.

“For us, the Unitary State of Indonesia is already final. What we want is how to better manage [both Papua and Aceh] mainly ahead of the regional elections, which are prone to causing conflict,” Irman said.

Nineteen people were killed in clashes between supporters of rival political candidates in seemingly unrelated incidents on Sunday. Because of the violence, the vote to elect a district chief scheduled for Nov. 9 was postponed.

Four civilians were later found dead after an attack on Monday. The attack occurred at about 3:30 a.m. local time as a group of fresh produce vendors was traveling from Koya to Youtefa market in Abepura.

Police claim to have found a Morning Star flag — used by the Free Papua Movement (OPM) and Papua independence supporters — at the side of the road near the site of the attack, along with damaged cars, ammunition shells and spears and arrows.

On Wednesday, gunmen shot at a military helicopter in the hilly district of Puncak Jaya, a rebel stronghold and longtime hotbed of separatist violence. The chopper was flying in the remote region to evacuate Fana Hadi, an army private who was wounded during an attack on his post Tuesday morning.

Indonesian Army chief Gen. Pramono Edhie Wibowo vowed on Thursday to hunt down separatist rebels after a swell in violence in the restive province of Papua killed two soldiers.

They will be “chased down” and “cleaned up” by local military units, he said as quoted by the Associated Press. Pramono is the younger brother of first lady Ani Yudhoyono.

Yudhoyono, in a press conference after the meeting with the heads of state institutions, said he would consider inserting their input into his state address, which he would deliver on Aug. 16 ahead of Independence Day.

Yudhoyono did not touch on the issue of Papua or Aceh.

“What we discussed [with the heads of state institutions] is important. My speech will in fact relate to actual and strategic issues in our country now,” he said.

Yudhoyono said the government and heads of state institutions had agreed to prioritize enforcing the law, combating corruption, expanding the economy and advancing democracy. (rpt)

Source; http://www.thejakartapost.com

Wednesday, August 3, 2011

Aktivis Kemerdekaan Papua Kumpul di London

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Indonesia tak khawatir mengenai Koferensi Internasional Lawyer for West Papua (ILWP) di Universitas Oxford, London pada Selasa (2/8/2011). Konferensi ini menuntut kemerdekaan Papua Barat.

Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, yang juga mantan Duta Besar Indonesia di Inggris, mengatakan, ada sejumlah orang yang berusaha menghidupkan masalah Papua.

"Namun, upaya-upaya mereka selama ini tidak memeroleh dukungan luas dari masyarakat dan pemerintah Inggris. Pemerintah Inggris senantiasa menggarisbawahi, menekankan, bahwa mereka mendukung NKRI, mendukung kebijakan otonomi khusus di Papua," kata Marty kepada para wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa.

Marty mengatakan, pemerintah Indonesia senantiasa memberikan informasi mengenai kebijakan-kebijakan nasional, termasuk Papua, kepada negara-negara sahabat.

Selain pengacara, konferensi ini turut dihadiri pemimpin gerakan kemerdekaan Papua, legislator, dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Beberapa orang yang menjadi pembicara pada konferensi ini, antara lain, pemimpin kemerdekaan Papua, Benny Wenda, Anggota Ahli Komite PBB untuk Pengurangan Diskriminasi terhadap Perempuan Frances Raday, Menteri Kehakiman Vanuatu Ralph Regenvanu, dan lainnya.

Dukung ILWP

Sebelumnya, massa yang terdiri dari masyarakat dan mahasiswa dibawah koordinasi Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Selasa, berunjuk rasa mendukung pelaksanaan Koferensi ILWP.

Menurut Macho Tabuni dari KNPB, ILWP adalah lembaga hukum internasional yang mendapat legitimasi dari bangsa Papua untuk membawa masalah Papua ke Mahkamah Internasional. Ditemui di tengah-tengah aksi unjuk rasa, Macho Tabuni mengatakan, unjuk rasa dilaksanakan serentak di beberapa kota di Papua seperti Abepura, Nabire, Timika, dan Biak.

"Ini unjuk rasa damai, untuk menunjukkan kepada dunia dan Indonesia bahwa rakyat Papua Barat ingin menentukan nasib sendiri, melalui mekanisme hukum yang sah dan legal," kata Macho Tabuni.

Di Abepura, unjuk rasa diikuti ribuan warga yang berasal dari berbagai wilayah seperti Sentani, Koya, Waena, dan Abepura. Situasi kota mulai dari Sentani, Abepura dan Jayapura tampak lengang. Sebagian besar toko yang berada di ruas jalan yang menghubungkan ketiga kota itu tutup. Lingkaran Abepura menjadi salah satu titik kumpul massa pengunjuk rasa.

Sumber; http://nasional.kompas.com

Despite Deaths, Independence Protests Continue in Indonesia

By AUBREY BELFORD
Published: August 2, 2011

JAKARTA, Indonesia — Thousands rallied for independence from Indonesia in the country’s Papua region on Tuesday, in tense demonstrations that followed days of political violence that killed at least 21 people.

Several thousand people, many in traditional tribal dress, marched amid heavily armed police officers and soldiers in cities and towns in the provinces of Papua and West Papua, the police and witnesses said.

Protesters demanded a referendum on independence for the region and the repudiation of a 1969 United Nations-backed vote that formalized Indonesian control over the former Dutch colony.

“For 40 years, the Indonesian government has never fairly applied the law or upheld human rights,” Viktor Kogoya, chairman of the self-styled Jakarta consulate of the West Papua National Committee, which organized the protests, said in Jakarta. “The Papuan people have never had justice.”

The protests were largely peaceful, although activists and church workers accused the authorities of fomenting a climate of fear to deter demonstrations. Anonymous text messages had circulated for days warning of a looming “massacre.” And witnesses in several towns said groups of unidentified men in civilian clothes could be seen lingering in the streets from early in the day. Witnesses suspected that the men were part of the security forces.

The protests followed the death of at least 17 people in interclan political fighting in the region’s remote central highlands over the weekend, as well as a predawn raid on Monday in which unidentified assailants blocked traffic outside the Papua provincial capital, Jayapura, shooting and stabbing four people, including one soldier, to death.

The West Papua National Committee has accused elements of the security forces of provoking or staging the violence in order to foil the protests. The rebel Free Papua Movement has denied involvement in the Jayapura attack, according to news reports.

A spokesman for the Papua police, Col. Wachyono, also stopped short of blaming the rebels for the Jayapura attack, despite the discovery of a separatist flag at the scene. “We can’t conclude yet if it’s any organization,” he said. “After we do our investigation, we’ll report who it is. If it’s been staged or if it’s purely criminal, we’ll uncover it.”

Tuesday’s protests were scheduled to coincide with a conference in Britain advocating Papuan independence through legal challenges to Indonesian rule. Many Papuans, who are ethnically distinct from most other Indonesians, chafe at what they see as heavy-handed and exploitative rule from Jakarta.

Measures intended to promote greater autonomy, including a major injection of government funds into the resource-rich region, have failed to end calls for independence or a sporadic, poorly armed insurgency.


Sumber; http://www.nytimes.com

Tuesday, August 2, 2011

Presiden: Gunakan Pendekatan Persuasif

JAKARTA, KOMPAS.com — Penanganan kerusuhan sosial di Papua harus dilakukan dengan menggunakan pendekatan persuasif. Namun, ketika persoalan itu sudah menyangkut tindakan anarki dan melanggar hukum serta upaya untuk merongrong kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, aparat keamanan harus menindak tegas.

"Presiden memerintahkan kepolisian dan TNI segera berkoordinasi dan memastikan tidak lagi jatuh korban jiwa, apalagi menyangkut warga sipil. Presiden menginstruksikan agar diupayakan suatu pendekatan yang persuasif untuk menghindari korban jiwa," kata Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha, Selasa (2/8/2011).

"TNI tidak harus keras untuk menenangkan situasi. Namun, jika hal itu sudah berubah menjadi hal yang inkonstitusional, anarki, dan merongrong kewibawan NKRI, harus ditindak tegas," kata Julian.

Seperti diberitakan sebelumnya, bentrokan antarkelompok pendukung politik di Puncak Jaya, Sabtu (30/7/2011), mengakibatkan 18 orang tewas. Papua kembali memanas setelah pada Senin lalu terjadi penyerangan di Abepura, Jayapura, yang menewaskan 4 orang. Satu di antara korban tewas itu diidentifikasi sebagai prajurit TNI bernama Dominikus Keraf.

Julian menambahkan, pendekatan persuasif yang dilakukan harus melibatkan pemuka adat, pemimpin masyarakat, atau tokoh informal yang lain.

Sumber; http://nasional.kompas.com

Ribuan Warga Manokwari Turun ke Jalan

MANOKWARI, KOMPAS.com - Ribuan warga Manokwari dan sekitarnya turun ke jalan berunjuk rasa menuntut kemerdekaan tanah Papua.

Sejak Selasa (2/8/2011) pagi pukul 09.00 WIT, ratusan warga mulai berkumpul di depan kantor Dewan Adat Papua, di daerah Sanggeng. Mereka menunggu massa yang lainnya datang dari berbagai daerah.

Sekitar pukul 12.00 WIT, ribuan massa berangkat menuju kantor DPR dan gubernur Papua Barat. Di tengah jalan, massa itu bertemu dan menyatu dengan massa lainnya yang berkumpul di sekitar kampus Universitas Negeri Papua, yang umumnya pemuda dan mahasiswa.

Tuntutan aksi damai mereka ialah kemerdekaan tanah Papua lepas dari NKRI. Demo juga bermaksud mendukung internasionalisasi masalah Papua yang menolak hasil Penetuan Pendapat Rakyat (Pepera). Kabarnya, aksi juga dilakukan di beberapa tempat, bahkan di luar negeri.

Hingga berita ini diturunkan, aksi masih berlanjut. Sementara itu, Kapolres Manokwari AKBP Agustinus Supriyanto mengatakan, unjuk rasa adalah kebebasan warga mengapresiasikan suaranya. Namun dia minta warga yang berunjuk rasa tidak membuat kerusuhan, merusak atribut negara, makar.

Untuk mengamankan demo, polisi dan TNI menurunkan 420 personil gabungan, dari Kodim, TNI AL, Kompi, Polisi Militer, dan anggota Polres Manokwari.

"Warga tak perlu resah karena kami memberikan perlindungan," ujar Agustinus terkait keresahan warga yang muncul dipicu oleh beredarnya pesan singkat berisi akan ada kerusuhan besar-besaran di sejumlah tempat.

Sejak pagi, kondisi kota Manokwari cenderung sepi, tidak seperti biasanya. Bahkan sejumlah sekolah memulangkan lebih cepat siswanya, dan pegawai kantor pulang lebih awal. Seperti di kantor gubernur Papua Barat, banyak pegawai memilih pulang cepat, dari pada di kantor.

Agustinus menambahkan, warga tak perlu resah dan takut dengan unjuk rasa tersebut. Dia mengimbau agar warga tak menghiraukan isu atau pesan singkat yang membawa berita meresahkan.

Sumber; http://regional.kompas.com

Saturday, September 25, 2010

AKSI DAMAI MASYARAKAT ASLI PAPUA, DESAK PERTEMUAN DI KONGRES AS SELESAIKAN MASALAH PAPUA LEWAT REFERENDUM

Jayapura, 23 September 2010

Kamis 23 September 2010, pukul 13.21 Wit, masyarakat Papua yang tergabung dalam Kominte Nasional Papua Barat (KNPB) lakukan aksi damai di Taman Makan al. Theis Hiyo Eluay di Sentani. Massa yang hadir diperkirakan berjumlah 3000-an orang. Koordinator aksi, Musa Tabuni(35) mengatakan bahwa, aksi hari ini bertujuan untuk mendukung pertemuan yang berlangsung di Kongres AS. Selain itu kata Musa Tabuni, persoalan papua telah menjadi perhatian dunia, untuk itu solusi terbaik untuk penyelesaian Wilayah Papua adalah melalui Referendum.

Musa Tabuni dalam kesempatan itu juga mengatakan ”Sebagai generasi papua, kami menyampaikan ucapan terimakasih kepada semua pejuang-pejuang Bangsa Papua baik yang gugur di medan pertempuran, juga yang masih ada dan terus melakukan perjuangan di seluruh Tanah Papua” ungkap Tabuni. Saul Tabuni, yang memperoleh kesempatan menyampaikan orasi politik mewakili Tahanan Politik (TAPOL) Papua, mengatakan persoalan Papua tidak bisa diselesaikan dengan pemberian Otonomi Khusus (Otsus). Solusinya adalah melalui Referendum, tegas Saul.

Dalam demonstrasi itu massa juga membentangkan spanduk dengan thema Referendum bagi Papua. Salah spanduk yang dibentangkan bertuliskan ”Referendum adalah solusi terbaik untuk penyelesaian masalah Papua”. Massa juga mengibarkan sejumlah bendera kebangsaan Ingris, bendera kebangsaan dari United State of America, New Zealand, Papua new Guinea, Afrika Selatan, Fiji, Denmark, Australia, Saudi Arabia, Korea Selatan, dan bendera kebangsaan Jepang.

Dalam aksi demonstrasi damai yang dilaksanakan kelompok Penjaga Tanah Papua berada di sekitar lokasi demonstrasi untuk mengamankan berlangsungnya demonstrasi. Sementara di depan Pos Polisi yang berhadapan dengan Makam Theis, ada 5 (lima) anggota polisi (Satlantas) sedang berdiri menertibkan kendaraan yang lewat sehingga tidak terjadi kemacetan lalulintas. Pukul 17.13 Wit, massa membubarkan diri dengan tertip. Laporan masyarakat di sekitar Abepura mengatakan melihat tiga truck dari satuan Brimob Polda Papua beriringan dari arah Abepura menuju ke arah Sentani. @