Menurut Koalisi Tani, buruh tani berpotensi menjadi budak di tanahnya sendiri.
VIVAnews - Koalisi Petani 'Sikap Tani' tidak menyetujui rencana pemerintah membuat Food Estate di Merauke, Papua. Menurut Koalisi, rencana ini terdengar bodoh dan membiarkan rakyat Indonesia menjadi budak di negeri sendiri.
Juru Bicara Sikap Tani yang terdiri dari gabungan 16 organisasi tani, Dwi Astuti, mengatakan Sikap Tani menentang rencana food estate ini.
Alasannya, bahwa buruh tani berpotensi menjadi budak di tanahnya sendiri. Padahal sebagai subjek pembaharuan agraria, seharusnya pokok pikiran utama yang ditekankan petani harus mendapatkan hak atas tanah dan kemitraan dengan pelaku usaha.
"Tapi di pasal 6 dan 7 (draf Perturan Menteri Pertanian) ini, dengan tenaga kerja lebih dari 10, para petani berpotensi menjadi buruh tani di tanah sendiri," kata Dwi Astuti di Cikini, Jakarta, Senin 26 April 2010.
Perwakilan Aliansi Desa Sejahtera, Tejo, mengatakan alasan penolakan food estate. Menurut dia hanya karena masalah lingkungan. Belajar dari pengalaman hutan Amazon di Brazil, telah menyebabkan Brazil sebagai penyumbang gas kaca terbesar di dunia.
"Apa ini mau ditiru," kata Tejo. Contoh itu seperti dalam penanganan kebun sawit. Ledakan hama kemudian diantisipasi dengan pestisida.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, setidaknya 4.000 orang meninggal akibat penggunaan pestisida berlebih di Brazil. Kerugian ini belum termasuk hilangnya keanekaragaman hayati. Amazon, kata Tejo, memiliki keanekaragaman tertinggi dengan 300 spesies dalam setiap 1 hektar.
Indonesia yang hampir tidak jauh berbeda dengan Amazon, pada saat sekarang diklaim akan digelar food estate dan energi estate seluas 1,2 juta hektar. "Kalau tidak dicegah kita akan mengulang bencana di Brazil. dan petani akan menjadi korban," katanya.
Selain itu, dengan besarnya modal dan wilayah cakupan perusahaan, diduga ada tendensi kuat kegiatan monopoli usaha. Petani pun sudah mendapatkan informasi 11 nama perusahaan besar dan diduga kuat tiga perusahaan besar akan bermain di sana.
"Mereka ini akan mengendalikan harga jual," katanya. (hs)
Sumber: Vivanews.com
Tuesday, April 27, 2010
Petani Tolak RI Tawarkan Food Estate
4/27/2010 11:37:00 PM
Elsham News Service
Related Posts / Artikel Terkait :
biodiversity
- 3 M2 Tanah Adat Senilai Sepotong Pisang Goreng
- Greenpeace Unveils Solar-Wind Hybrid Power System in West Papua
- Noble Group invests in Indonesian palm oil producer
- New species found in 'lost world' of Papuan mountains
- Explorers stumble on Pinocchio tree frog in Indonesian mountains
- Katak "Pinokio" Spesies Baru dari Papua
- Swasembada gula lebih pas dengan intensifikasi
- 25 Percent of Papua's forests felled
- Indonesia Perlu Food Estate
- Ada Hiu yang Bisa Jalan Lho..
- Rp 20 Miliar untuk 11 Spesies Ikan Raja Ampat
- LIPI uses auction proceedings to train future taxonomists
Environmental
- FALEOMAVAEGA AND PAYNE SPEARHEAD EFFORT IN U.S. CONGRESS CALLING UPON THE OBAMA ADMINISTRATION TO MAKE WEST PAPUA ONE OF ITS HIGHEST PRIORITIES
- Penebangan Liar Marak Selama Reformasi, 25 Persen Hutan Papua Hilang
- Menaklukkan Carstensz, Luar Biasa!
- Avatar, Papua, dan SBY
- 2010 Earth Day celebrations in Papua, Aceh
- AGRICULTURE-INDONESIA
- 33 PMDN ajukan izin investasi di Merauke
- RI lacks taxonomists to preserve biodiversity
- LIPI uses auction proceedings to train future taxonomists
- Management of RI’s marine resources
- Flannery warns of climate change apathy
- West Papua: Land grab to displace locals
- Illegal logging ‘must end’ before REDD takes effect
- "Tangkap Pelaku Ilegal Logging di Papua"
- Papua food drive sparks fears over forests
- Kawasan Konservasi di Jayapura Banyak Jadi Pemukiman
- 52 Persen Air PDAM Jayapura Terbuang Percuma
- Indonesia's food estate project sparks environment concerns
- Rajawali Kantongi Rp9,8 Triliun
- Large food estate development in Merauke will alienate Papuans, says NGO
- Ada Semburan Lumpur Setinggi Pohon Kelapa di Mimika
- HTI Milik Marimutu di Merauke Berlokasi di Hutan Primer
- Tata Ruang "Food Estate" di Merauke Belum Jelas
Berita Daerah
- Mendambakan “Surga Kecil”, Tanah Papua
- Kondisi Kesehatan Bram Makin Membaik
- RAPBD Papua Barat Ditetapkan
- Pengiriman Bantuan ke Wasior Terkendala Transportasi Kapal
- Warga Sempat Blokade Jalan di Lokasi Freeport
- Wapres Pimpin Rapat 22 Menteri
- Hess akan melakukan pengeboran di Blok Semai
- Mendagri: Segera serahkan APBA 2011
- DPRD Papua Barat Siapkan Dana Tambahan
- Era Otsus, Bidang Kesehatan di Papua Bagai “Lompat”
- Berbagai Tarian Tradisional Siap Ramaikan FDS
- DPD Dukung Papua Tengah Jadi Provinsi
- Imigrasi Papua tahan dua wartawan Prancis
- Imigrasi Papua tahan dua wartawan Prancis
- Ribuan Warga Demo Dukung Syarat Khusus Orang Asli Papua
- Ribuan Warga Demo Dukung Syarat Khusus Orang Asli Papua
- Spesies Baru di Mamberamo-Foja
- 2010, Ilmuwan Teliti Sejarah Es Puncak Jaya
- Satu dari Delapan DPO OPM Tewas Tertembak
- Anggota OPM Ditembak di Puncak Jaya
- Katak "Pinokio" Spesies Baru dari Papua
- Aparat Keamanan Tembak Mati Anggota OPM
- Bantuan Menkokesara Diportes Warga Papua
- Anggaran PNPM 2010 Sebesar Rp12 Triliun
- Penghuni Lapas Abepura Ancam Demo Menkumham
Kebijakan Pemerintah
- Menkeu Minta DPR Panggil Gubernur Papua
- Pesawat Bertambah, TNI AU Bakal Tambah Pangkalan
- BPMigas Rencana Pasok Listrik ke PLN di Papua
- Papua Banjir Mata-Mata
- Akankah Janji Pembangunan Merata, Damaikan Papua?
- Pemerintah siapkan peraturan presiden soal percepatan Papua
- Pemekaran Papua Tengah Ditarget Tahun ini
- 400 TNI Diberangkat ke Papua
- Papua Terima Kucuran Dana Tambahan Rp1 Triliun
- Ironi di Bintuni, Mumi Listrik di Digul
- Ketemu Lokasi PLTA Berkelas Emas, Kelelahan Lunas
- Atasi Kebutuhan Mendesak, Bangun Minihidro
- PLN Luncurkan Listrik Prabayar di Papua
- Belanja infrastruktur dialokasikan Rp18,1 triliun
- Papua Barat Jadi Sentra Ternak Sapi
- Diserahkan 11 Rekomendasi Daerah Otonomi Baru Papua
- Separatisme Papua Makin Mengkawatirkan
- Valens: Militer Tak Memadai Redam Separatisme
- Tantowi: Perlu Ada Kementerian Khusus Papua
- Ribuan TNI Diterjunkan di Papua
- Bangun Papua Sesuai Aspirasi
- Hilangkan Label Separatis
- Otsus Belum Didukung Ketentuan Pelaksana
- Kemenlu: Tak Ada Yang Masalahkan Papua
- TNI Angkatan Darat Bentuk Tiga Divisi Baru