Tuesday, September 6, 2011

Papua Banjir Mata-Mata

Papua dibanjiri mata-mata, demikian judul artikel harian sore NRC Handelsbald, Kamis (1/9). Penguasa di Jakarta takut gerakan separatisme di propinsi paling timur Indonesia itu akan semakin kuat.

Kopassus mengerahkan spion dalam jumlah besar mulai dari sopir taksi, jurnalis, petani, penjual minuman, dan pendeta.

NRC Handelsblad mendasarkan berita ini pada ratusan dokumen dinas mata-mata Kopassus tentang Papua yang bocor ke media. Dokumen tersebut memperlihatkan upaya keras tentara untuk memantau gerak-gerik para aktivis, politisi, pemimpin gereja dan warga asing di Papua.

Aktif
Papua adalah satu-satunya propinsi di Indonesia di mana gerakan separatisme masih aktif. Tentara dan polisi dalam jumlah besar diturunkan di pulau Cendrawasih itu.

"Hal paling sensitif untuk tentara adalah separatisme," tulis NRC Handelsblad.

Menurut Muridan Widjojo, peneliti LIPI yang diwawancarai NRC Handelsblad, selain Kopassus berbagai instansi pemerintah lain juga menurunkan mata-mata seperti pemerintah pusat, pemda provinsi, polisi dan satuan militer lainnya.

"Kadang ada pertemuan yang dihadiri sekitar 30 orang, kebanyakan dari mereka adalah mata-mata," kata Muridan seperti dikutip NRC Handelsblad.

Opini publik
Dalam bocoran dokumen, Kopassus memperkirakan jumlah anggota kelompok separatis bersenjata mencapai 1.130 orang, tapi mereka cuma punya 131 senjata. Tentara justru menganggap mereka yang tidak bersenjata lebih berbahaya. Karena jumlahnya mencapai 17 ribu orang.

"Dengan propoganda mereka bisa mempengaruhi opini publik baik, di dalam maupun di luar negeri untuk memaksa pemerintah Indonesia menggelar referendum untuk kemerdekaan Papua," demikian tulis tentara seperti dikutip NRC Handelsblad.

Banjir mata-mata di Papua ini menimbulkan masalah untuk kelompok oposisi yang kritis terhadap pemerintah.

"Di mata tentara, mereka juga dianggap separatis," kata Muridan. Aktivis HAM dan pemimpin lokal juga sering dituduh sebagai pembangkang. Paranoia tentara di Papua ini bisa membahayakan hidup mereka. Demikian NRC Handelsblad.


Sumber; http://www.rnw.nl